BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kepribadian merupakan keseluruhan
cara dimana seseorang individu bereaksi dan berinteraksi dengan individu lain.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian yaitu faktor keturunan dan faktor
lingkungan.
Sifat-sifat kepribadian merupakan karakteristik yang umumnya melekat dalam diri seorang individu
yaitu : malu, agresif, patuh, malas, ambisius, setia, dan takut.
Karakteristik - karakteristik
tersebut, ketika ditunjukkan dalam
berbagai situasi, disebut sifat-sifat kepribadian. Karakteristik yang sering muncul
dan mendiskripsikan perilaku seorang individu.
Nilai menunjukkan alasan dasar bahwa cara pelaksanaan atau keadaan
akhir tertentu lebih disukai secara sosial dibandingkan cara pelaksanaan atau keadaan
akhir yang berlawanan. Sistem nilai adalah sebuahhirarki yang didasarkan pada penggolongan nilai-nilai
seorang individu menurut intensitas mereka.
1.2 Rumusan Masalah
1.
Apakah yang dimaksud dengan kepribadian?
2.
Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi
kepribadian?
3.
Apakah yang dimaksud dengan sifat-sifat
kepribadian?
4. Bagaimana
cara menilai kepribadian?
5. Apa
saja sifat kepribadian yang mempengaruhi perilaku organisasi?
6. Apa
yang dimaksud dengan nilai dan sistem nilai?
7. Apa
saja jenis-jenis nilai?
1.3 Tujuan
1.
Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan
kepribadian dan nilai.
2.
Untuk mengetahui apa saja faktor-faktor yang
mempengaruhi kepribadian.
3. Untuk
mengetahui cara menilai kepribadian.
4. Untuk
mengetahui apa saja sifat-sifat kepribadian yang mempengaruhi perilaku
organisasi.
5.
Untuk mengetahui jenis-jenis nilai.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Kepribadian
Organizational
Behavior (Stephen P. Robbins). Para psikolog cenderung
mengartikan kepribadian sebagai suatu konsep dinamis yang mendeskripsikan
pertumbuhan dan perkembangan seluruh sistem psikologis seseorang. Gordon
Allport (70 tahun yang lalu) mengartikan kepribadian “organisasi dinamis dalam
sistem psikofiologis individu yang menentukan caranya untuk menyesuaikan diri
secara unik terhadap lingkungannya”.Faktor yang mempengaruhi kepribadian:
1. Faktor
Keturunan
Ada
tiga dasar yang menjelaskan bahwa faktor keturunan menentukan kepribadian
seseorang:
a. Berfokus
pada penyokong genetis dari perilaku dan temperamen anak-anak. Bukti
menunjukkan bahwa sifat-sifat seperti perasaan malu, rasa takut, dan agresif
dapat dikaitkan dengan karakteristik genetis bawaan.
b. Berfokus
pada anak-anak kembar yang dipisahkan sejak lahir.
Kepribadian anak kembar yang dibesarkan dikeluarga yang berbeda ternyata lebih mirip dengan saudara kembarnya dibandingkan kepribadian seorang kembar identik dengan saudara-saudara kandungnya yang dibesarkan bersama-sama.
Kepribadian anak kembar yang dibesarkan dikeluarga yang berbeda ternyata lebih mirip dengan saudara kembarnya dibandingkan kepribadian seorang kembar identik dengan saudara-saudara kandungnya yang dibesarkan bersama-sama.
c. Meneliti
konsistensi kepuasan kerja dari waktu ke waktu dan dalam berbagai situasi.
2. Faktor
Lingkungan
Lingkungan adalah dimana tempat kita
tumbuh dan dibesarkan, norma dalam keluarga, teman-teman, dan kelompok social,
dan pengaruh-pengaruh lain yang kita alami. Budaya membentuk norma, sikap, dan
nilai yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya serta
menghasilkan kosistensi berjalannya waktu. Ideologi yang secara instens berakar
disuatu kultur mungkin hanya akan berpengaruh sedikit pada kultur yang lain
akan tetapi pada umumnya stabil dan kosisten, dapat berubah tergantung pada
situasi dan kondisi yang dihadapinya.
Akan tetapi faktor keturunan membekali kita dengan sifat dan kemampuan bawaan, tetapi potensi penuh kita ditentukan oleh seberapa baik kita menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Akan tetapi faktor keturunan membekali kita dengan sifat dan kemampuan bawaan, tetapi potensi penuh kita ditentukan oleh seberapa baik kita menyesuaikan diri dengan lingkungan.
2.2 Sifat – sifat Kepribadian
Mengapa
sifat-sifat kepribadian menjadi suatu hal yang mendapatkan perhatian yang cukup
besar? Hal ini dikarenakan para peneliti telah lama meyakini bahwa sifat-sifat
kepribadian dapat membantu proses seleksi karyawan, menyesuaikan bidang
pekerjaan dengan individu, dan memandu keputusan pengembangan karier.
Myers Briggs Type Indicator(MBTI)
adalah instrument penilaian kepribadian yang paling sering digunakan,
instrument yang berisi 100 pertanyaan mengenai bagaimana individu akan merasa
atau bertindak dalam situasi tertentu serta dijabarkan sebagai berikut:
·
Ekstraver vs Introver – individu dengan
karakteristik ekstraver digambarkan sebagai individu yang ramah, suka bergaul,
dan tegas; sedangkan introver digambarkan sebagai individu yang pendiam dan
pemalu.
·
Sensitif vs Intuitif – individu dengan
karakteristik sensitif digambarkan yang praktis dan lebih rutinitas dan urutan
serta berfokus pada detail; sedangkan intuitif mengandalkan proses-proses tidak
sadar dan melihat “gambaran umum”.
·
Pemikir vs Perasa – individu dengan
karakter pemikir menggunakan alas an dan logika untuk menangani berbagai
masalah; sedangkan perasa mengandalkan nilai-nilai dan emosi pribadi mereka.
·
Memahami vs Menilai – individu yang
cenderung memiliki karakteristik memahami menginginkan kendali dan lebih suka
dunia mereka teratur dan terstruktur; sedangkan menilai cenderung lebih
fleksibel dan spontan.
Indikator
ini banyak digunakan dalam dunia bisnis maupun angkatan bersenjata akan tetapi
sebagai bukti menunjukkan bahwa ukuran ini kurang valid yaitu memaksakan
seseorang intuk diketegorikan sebagai satu jenis atau jenis yang lainnya dengan
kata lain tidak ada yang berada pada posisi tengah-tengah, meskipun
kadang-kadang individu bisa jadi ekstrober dan introver pada tingkatan
tertentu. Hal ini bisa menjadikan sebuah alat ukur untuk meningkatkan kesadaran
diri dan memandu karier, akantetapi tidak berhubungan dengan prestasi kerja
serta tidak bisa digunakan sebagai tes seleksi karyawan.
Model
lima besar, John Bearden telah membuktikan bagaimana cara membuat dan
memikirkan kembali cara mengatur individu. Selama beberapa tahun terakhir
penelitian mendukung bahwa 5 dimensi dasar saling mendasari dan mencakup
sebagian besar variasi yang signifikan dalam kepribadian manusia. Faktor 5
besar mencakup:
1) Ekstraversi
(exstraversion). Dimensi ini
mengatakan tingkat kenyamanan seseorang dalam berhubungan dengan individu lain.
Individu yang Ekstraversi cenderung suka berkelompok, tegas, dan mudah
bersosialisasi; sebaliknya introversi cenderung suka menyendiri dan pendiam.
2) Mudah
akur dan bersepakat (Agreeblesness).
Dimensi ini mengatakan kepatuhan individu terhadap individu yang lainnya. Individu
yang suka besepakat adalah individu yang senang bekerjasama, hangat dan penuh
kepercayaan. Sebaliknya individu yang tidak suka bersepakat cenderung dingin,
tidak ramah dan suka menantang.
3) Sifat
berhati-hati (Conscientiousness).
Dimensi ini merupakan ukuran kepercayaan artinya individu yang sangat
berhati-hati adalah yang bertanggung jawab, teratur, dapat diandalkan serta
gigih; sebaliknya individu yang berhati-hati rendah cenderung mudah bingung,
tidak teratur serta tidak dapat diandalkan.
4) Stabilitas
emosi (Emotional Stability). Dimensi
ini menilai kemampuan seseorang untuk menahan stress. Individu yang tingkat
emosi yang positif cenderung tenan, percaya diri dan memiliki pendirian yang
teguh. Sebaliknya Individu yang tingkat emosi yang negative cenderung mudah
gugup, khawatir, depresi dan tidak memiliki penndian yang teguh.
5) Terbuka
terhadap hal-hal baru (Openess to
Experience). Dimensi ini mengelompokan individu berdasarkan lingkup minat
dan ketertarikannya terhadaphal-hal baru. Individu yang sangat terbuka
cenderung kreatif, ingin tau, dan sensitive terhadap hal-hal yang bersifat
seni. Sebaliknya mereka yang tidak terbuka cenderung konvensional dan merasa
nyaman dengan hal-hal yang sudah ada.
Selain
menyediakan kerangka kerja kepribadian yang menyatu, penelitian mengenai Model
5 besar juga menemukan keterkaitan antara dimensi-dimensi kepribadian ini
dengan prestasi kerja individu. Fakta yang lebih besar menunjukkan bahwa
individu yang dapat dipercaya, dapat diandalkan, bertanggungjawab, mampu
membuat rencana, terorganisasi, pekerja keras, gigih dan berorentasi pada
prestasi cenderung mempunyai prestasi kerja yang lebih tinggi dalam sebagian
kerja jika bukan semua pekerjaan.
2.3
Menilai
Kepribadian
Alasan
kenapa seorang menejerial perlu mengetahui bagaimana cara menilai pekerjaan
adalah karena penelitian menunjukkan bahwa tes-tes kepribadian sangat berguna
salam membuat keputusan perekrutan. Nilai kepribadian juga dapat digunakan
untuk meramalkan calon terbaik untuk suatu pekerjaan disamping agar lebih
memahami dan lebih baik dalam mengatur individu yang bekerja pada mereka. Ada
3 cara utama untuk menilai kepribadian:
1) Survey
Mandiri
Survey mandiri adalah survey yang
umum digunakan yaitu dengan mengisi sendiri form pengisian. Survey mandiri
banyak kekurangan misalnya berbohong untuk mendapatkan nilai terbaik, juga
akurasi yang tidak tepat karena kondisi emotional sangat mempengaruhi waktu
pengisian.
2) Survey
Peringkat Oleh Pengamat
Survey peringkat bisa dilakukan
dengan melakukan penilaian yang dilakukan teman sejawat, survey ini bisa
dijadikan pertimbangan yang lebih baik atas keberhasilan suatu pekerjaan.
3) Ukuran
Proyeksi (Rorschach Inkbolt test dan
Thematic Apperception test-TAT)
Rorschach Inkbolt test adalah individu diminta unutk menyatakan menyerupai apakah Inkblot dan Thematic Apperception test-TAT adalah individu dimintai menuliskan kisah dari serangkaian gambar pada kartu. Akan tetapi cara ini jarang digunakan dikarenakan adanya ketidak seragaman mengartikan.
Rorschach Inkbolt test adalah individu diminta unutk menyatakan menyerupai apakah Inkblot dan Thematic Apperception test-TAT adalah individu dimintai menuliskan kisah dari serangkaian gambar pada kartu. Akan tetapi cara ini jarang digunakan dikarenakan adanya ketidak seragaman mengartikan.
2.4 Sifat Kepribadian yang Mempengaruhi
Perikalu Organisasi
Evaluasi
inti diri (core self evaluation),
konsep ini mengatakan bahwa individu memiliki pandangan akan dirinya sendiri,
ada 2 hal dalam evaluasi inti diri yaitu positif dan negatif. Artinya positif
adalah individu menyukai diri sendiri, menganggap diri mereka efektif, cakap
dan mengendalikan lingkungan mereka, sedangkan negatif menganggap diri mereka
tidak berdaya atas lingkungan mereka. Evaluasi inti diri ditentukan 2 elemen
yaitu:
a. Harga
diri (seft esteem) adalah tingkat
menyukai atau tidak menyukai diri sendiri dan tingkat sampai mana individu
menganggap diri mereka berharga dan tidak berharga sebagai seorang
manusia.
b. Lokus
kendali (locus of control) adalah
tingkat dimana individu yakin akan mereka adalah penentu nasib mereka sendiri.
c. Internal
(inlternals) adalah individu yakan
bahwa mereka pemegang kendali atas apa pun yang terjadi pada mereka.
d. Eksternal
(externals) adalah individu yakin
bahwa apa pun dikendalikan oleh kekuatan luar seperti keberuntungan dan
kesempatan.
Machiavellianisme (Machiavellianisme-mach)
berasal dari nama niccolo Machiavelli berpendapat tentang bagaimana cara
mendapatkan dan menggunakan kekuasaan. Individu dengan machiavellianisme cenderung pragmatis, mempertahankan jarak
emosional, dan yakin bahwa hasil lebih penting dari pada proses. Namun sifat machiavellianisme dapat diredam oleh faktor-faktor
situasional yaitu:
a. Ketika
mereka berinterasi secara langsung dengan individu lain, bukan secara tidak
langsung.
b. Ketika
situasi mempunyai sedikit peraturan, yang memungkinkan kebebedan improvisasi.
c. Bila
keterlibatan emosional dengan detail-detail yang tidak relevan dengan
keberhasilan menggangu individu mach yang rendah.
Narsisme
(nascissism) adalah individu yang
mendeskripsikan yang menpunyai rasa kepentingan diri yang berlebihan,
membutuhkan pengakuan berlebih, mengutamakan diri sendiri dan arogan. Menurut
penelitian individu tipe ini mempunyai pandangan mereka adalah peminpin yang
labih baik bila dibandingkan rekan-rekan mereka sedangkan atasan mereka menilai
mereka pemimpin yang buruk.
Pemantau
diri (self monitoring) merujuk pada
kemampuan seorang individu untuk menyesuaikan perilakunya dengan faktor-faktor
situasional eksternal. Mereka sangat peka terhadap isyarat-isyarat eksternal
dan mampu menyesuaikan perilaku dengan situasi yang berbeda-beda.
Pengambil
Resiko, kecenderungan untuk mengambil atau menghindari resiko telah terbukti
berpengaruh terhadap berapa lama waktu yang dibutuhkan manajer untuk membuat
keputusan dan berapa banyak informasi yang mereka butuhkan untuk membuat
pilihan.
Kepribadian
tipe A adalah individu yang luar biasa kompetitif dan selalu terlihat mengalami
keterdesakan waktu. Karakteristik kepribadian tipa A yaitu:
1. Selalu
bergerak, berjalan, dan makan dengan cepat.
2. Merasa
tidak sabaran.
3. Berusaha
keras untuk memikirkan atau melakukan dua hal atau lebih pada saat yang
bersamaan.
4. Tidak
dapat menikmati waktu luang.
5. Terobsesi
dengan angka-angka, mengukur keberhasilan dalam bentuk jumlah hal yang bisa
mereka peroleh.
Berbeda
dengan kepribadian tipe B, jarang tergoda oleh keinginan untuk mendapatkan
sejumlah hal yang terus meningkatkan atau berpartisipasi dalam serangkaian
peristiwa yang terus berkembang dengan jumlah yang selalu berkurang. Karakteristik
tipe B adalah:
1. Tidak
pernah pengalami keterdesakan waktu atau ketidaksabaran.
2. Merasa
tidak perlu memperlihatkan atau mendiskusikan pencapaian maupun prestasi mereka
kecuali atas tuntusan situasi.
3. Bersenang-senang
dan bersantai daripada berusaha menunjukkan kenggulan mereka.
4. Bisa
santai tanpa merasa bersalah.
Kepribadian
proaktif (proactive personality)
cenderung oportunis, berinisiatif, berani bertindak, dan tekun sehingga
berhasil mencapai perubahan yang berarti. Mereka menciptakan perubahan positif
dalam lingkungan tanpa memperdulikan batasan dan halangan sehingga individu
yang proaktif sangan dibutuhkan dalam perusahaan. Individu proaktif juga
cenderung mencari informasi pekerjaan mengenai organisasi, mengembangkan kontak
posisi yang tinggi, terlihat dalam perencanaan karier, dan tekun ketika
menghadapi rintangan-rintangan karier.
Kepribadian
dan kultur nasional, tidak ada tipe kepribadian umum untuk suatu Negara
tertentu, menemukan pengambil resiko yang tinggi dan rendah hampir setiap
kultur. Namun, kultur suatu Negara mempengaruhi karakteristik kepribadian yang
dominan dari populasinya. Terbukti bahwa kultur-kultur berbeda berdasarkan
hubungan individu dengan lingkungan mereka. Dalam beberapa kultur orang-orang
yakin bahwa mereka bisa mendominasi lingkungan mereka sedangkan dinegara lain
yakin bahwa kehidupan pada dasarnya telah ditentukan sebelumnya oleh kekuatan
yang lain.
2.5
Nilai
Nilai
(value) menunjukkan alasan dasar
bahwa “cara pelaksanaan atau keadaan akhir tertentu lebih disukai secara
pribadi atau sosial dibandingkan cara pelaksanaan atau keadaan akhir yang
berlawanan”. Nilai memuat elemen pertimbangan yang membawa ide-ide seorang individu
mengenai hal-hal yang benar, baik atau diinginkan. Nilai mempunyai sifat isi
dan intensitas. Sifat isi menyampaikan bahwa cara pelaksanaan atau keadaan
akhir dari kehidupan adalah penting. Sifat intensitas menjelaskan betapa
pentingnya hal tersebut. Jadi ketika menggolongkan nilai seorang individu menurut
intensitasnya kita kenal dengan sistem nilai (value system) orang tersebut.
Nilai
mempuyai kecenderungan yang relatif stabil dan berlangsung lama. Sejak kecil
kita diberi tahu bahwa perilaku-perilaku tertentu pantas atau tidak. Pembelajaran
nilai secara absolut atau secara “Hitam atau Putih” inilah yang setidaknya
menjamin kestabilan dan daya tahan nilai tersebut.
2.6 Pentingnya Nilai
Nilai
sangat penting terhadap penelitian perilaku organisasional karena menjadi dasar
pemahaman dan motivasi individu, dan dikarenakan berpengaruh juga pada persepsi
kita. Secara umum nilai mempengaruhi sikap dan perilaku, misal sebuah
perusahaan dan memiliki pendangan bahwa pengalokasian imbalan berdasarkan
pretasi kerja adalah benar, sementara pengalokasian imbalan berdasarkan
senioritas adalah salah. Sehingga hal tersebut memicu untuk tidak berupaya
semaksimal mungkin karena “bagaimana pun juga, hal tersebut tidak akan menghasilkan
lebih banyak imbalan”.
2.7 Jenis Nilai
Rokeach value survey (Milton Rokeach),
terdiri dari 18 pokok nilai individu, satu kumpulan disebut nilai terminal (terminal value) merujuk pada keadaan-keadaan
akhir yang diinginkan yang merupakan tujuan yang dicapai seseorang selama
hidupnya. Kumpulan lainnya yaitu nilai instrumental (instrumental value), merujuk pada perilaku atau cara-cara yang
lebih disukai untuk mencapai suatu terminal. Penelitian RVS berubah-ubah
diantara setiap kelompok dalam individu dalam pekerjaan atau kategori yang
sama. Perbedaan ini menjadi sulit ketika kelompok-kelompok tersebut harus
bernegosiasi satu sama lainnya serta dapat menimbulkan konflik ketika harus
berhadapan mengenai kebijaksanaan ekonomi dan sosial organisasi.
Kelompok
kerja kontemporer, merupakan penggabungan beberapa analisis terbaru mengenai
nilai kerja ke dalam empat kelompok yang berusaha mendapatkan nilai unik dari
kelompok atau generasi yang berbeda – beda dalam angkatan kerja. Kelompok kerja
kontemporer ini mempunyai beberapa kekurangan antara lain:
1) Tidak bisa membuat asumsi bahwa
kerangka ini bisa diterapkan secara universal diseluruh kultur.
2) Terdapat sangat sedikit penelitian
yang tepat mengenai nilai generasional, sehingga memerlukan kerangkan intuitif.
3) Hal ini merupakan kategori-kategori
yang tidak tepat.
Pemahaman
bahwa nilai individual berbeda tetapi cenderung mencerminkan nilai sosial pada
periode dimana individu tumbuh dapat menjadi sebuah masukan yang berharga dalam
menjelaskan dan memprediksi perilaku. Karyawan pada usia 60-an akhir, misalnya
cenderung lebih bisa menerima otoritas bila dibandingkan rekan-rekan kerja
mereka yang usianya 10 – 15 tahun lebih muda. Bila dibandingkan pada orang tua
mereka, pekerja yang usia 30-an kemungkinan besar menolak keras jika harus
bekerja pada akhir pekan dan lebih mudah meninggalkan pekerjaan pada karier
menengah untuk mengejar karier lain yang memberikan lebih banyak waktu luang.
2.8 Nilai, Kesetiaan dan Perilaku
Etis
Skandal-skandal
terbaru perusahaan seperti manipulasi laporan keuangan, penyembunyian fakta,
dan konflik-konflik kepentingan memang menunjukkan suatu penurunan, apakah hal
ini dapat menurunkan etika bisnis?
Penurunan dalam standard-standard etika, mungkin kita mendapatkan sebuah penjelasan yang masuk akal. Bagaimanapun, manajer terus melaporkan bahwa tindakan atasan mereka merupakan faktor terpenting yang mempengaruhi perilaku etis dan tidak etis dalam organisasi mereka. Dengan fakta ini, nilai yang dimiliki oleh individu yang berada pada posisi manajemen menengah dan atas harus memiliki kaitan dengan seluruh iklim etis dalam sebuah organisasi.
Generasi Boomer naik ketingkat menajemen yang lebih tinggi, pada posisi manajer menengah dan puncak. Kesetiaan Generasi Boomer adalah pada karier mereka serta fokus perhatian mereka pada menjadi “nomor satu”. Potensial sekarang adalah pada generasi X yang sedang bergerak menuju celah-celah manajemen menengah dan dengan segera akan naik ke manajemen puncak. Karena dangat menghargai hubungan, mereka cenderung mempertimbangakan implikasi etis dari tindakan-tindakan mereka terhadap individu lain disekitar mereka. Sehingga dapat dilihat peningkatan standatd etika dalam bisnis selama satu atau dua decade berikutnya semata-mata sebagai hasil dari nilai yang berubah dalam posisi manajemen.
Penurunan dalam standard-standard etika, mungkin kita mendapatkan sebuah penjelasan yang masuk akal. Bagaimanapun, manajer terus melaporkan bahwa tindakan atasan mereka merupakan faktor terpenting yang mempengaruhi perilaku etis dan tidak etis dalam organisasi mereka. Dengan fakta ini, nilai yang dimiliki oleh individu yang berada pada posisi manajemen menengah dan atas harus memiliki kaitan dengan seluruh iklim etis dalam sebuah organisasi.
Generasi Boomer naik ketingkat menajemen yang lebih tinggi, pada posisi manajer menengah dan puncak. Kesetiaan Generasi Boomer adalah pada karier mereka serta fokus perhatian mereka pada menjadi “nomor satu”. Potensial sekarang adalah pada generasi X yang sedang bergerak menuju celah-celah manajemen menengah dan dengan segera akan naik ke manajemen puncak. Karena dangat menghargai hubungan, mereka cenderung mempertimbangakan implikasi etis dari tindakan-tindakan mereka terhadap individu lain disekitar mereka. Sehingga dapat dilihat peningkatan standatd etika dalam bisnis selama satu atau dua decade berikutnya semata-mata sebagai hasil dari nilai yang berubah dalam posisi manajemen.
2.9Nilai
Lintas Kultur
Kerangka
Hofstede untuk menilai kultur sekitar tahun 1970-an oleh Geert Hofstede, ia
menemukan bahwa manajer dan karyawan memiliki lima dimensi nilai kultur nasional
yang berbeda – beda, dimensi tersebut adalah:
1. Jarak
kekuasaan (power distance).
Tingkatkan dimana individu dalam suatu Negara setuju bahwa kekuatan dalam
institusi dan organisasi didistribusikan secara tidak sama. Kultur-kultur
seperti ini cenderung mengikuti sistem kelas atau kasta yang tidak mendukung
mobilitas warga negaranya ke atas. Peringkat jarak kekuasaan yang rendah
menunjukkan bahwa kultur tersebut tidak mendukung perbedaan antara kekuatan dan
kekayaan karena menekankan pada persamaan dan peluang.
2. Individualisme
(individualism) versus kolektivisme (collectivism). Individualisme adalah
tingkatan dimana individu lebih suka bertindak sebagai individu daripada
sebagai anggota suatu kelompok dan menjunjung tinggi hak-hak individual.
Kolektivisme menekankan kerangka sosial yang kuat dimana individu mengharap
individu lain dalam kelompok mereka untuk menjaga dan melindungi mereka.
3. Maskulinitas
(masculinity) versus feminitas (feminity). Tingkatan dimana kultur
lebih menyukai peran-peran maskulin tradisioanal seperti pencapaian, kekuatan,
dan pengendalian versus kultur yang memandang pria dan wanita memiliki
kedudukan yang sejajar. Penilaian maskulinitas yang tinggi menunjukkan bahwa
terdapat peran yang terpisah untuk pria dan wanita, dengan pria yang
mendominasi. Penilaian feminitas yang tinggi berarti bahwa terdapat sedikit
perbedaan antara pria dan wanita, ini juga tidak berarti menekankan persamaan
antara pria dan wanita.
4. Penghindaran
ketidakpastian (uncertainity avoidance).
Tingkatan ini dimana individu dalam suatu Negara lebih memilih situasi
terstruktur dibandingkan tidak terstruktur.Individu memiliki tingkat
kekhawatiran yang juga tinggi mengenai ketidakpastian dan ambiguitas. Kultur
ini cenderung menekankan hukum,peraturan,dan kendali yang didesain untuk
mengurangi ketidakpastian. Kultur ketidakpastian rendah individu tidak begitu
cemas akan ambiguitas dan ketidakpastian serta memiliki toleransi akan
keragaman opini.
5. Orientasi
jangka panjang (long term orientation)
versus orientasi jangka pendek (short
term orientation). Individu dalam kultur orientasi jangka panjang melihat
kemasa depan dan menghargai penghematan,ketekunan, dan tradisi. Sedangkan
individu kultur jangka pendek menghargai masa kini;perubahan diterima dengan
lebih siap,dan komitmen tidak mewakili halangan-halangan menuju perubahan.
Kerangka
global untuk menilai kultur (Globe Leadership
and Organizatioanal Behavior Effectiveness) adalah sebuah penyelidikan
lintas kultural mengenai kepemimpinan dan kultur nasional yang terus menerus
dilakukan dan tim global mengidentifikasi 9 dimensi dalam kultur nasional yang
saling berbeda antara lain:
1. Ketegasan
Tingakatan
sampai mana suatu masyarakat mendorong individu untuk bersikap tegar,
konfrontatif, tegas,dan kompetitif dibandingkan rendah hati dan lembut.
2. Orientasi
Masa Depan
Tingkatan
sampai mana suatu masyarkat mendorong dan menghargai perilaku yang berorientasi
pada masa depan, seperti perencanaan, investasi masa depan, danpenundaan
kepuasan. Hal ini sama dengan orientasi jangka panjang atau jangka pendek milik
Hofstede.
3. Perbedaan
Gender
Tingkatan
sampai mana suatu masyarakat memperbesar perbedaan peran gender (dimensi
maskulinitas-femininitas).
4. Penghindaran
Ketidakpastian
Tim
global mendifinisikan istilah ini sebagai kepercayaan masyarakat terhadap norma
dan prosedur sosial untuk mengurangi ketidakmampuan dalam memprediksi kejadian
masa depan.
5. Jarak
Kekuasaan
Tim
global mendefinisikan sebagai tingkatan sampai mana anggota suatu masyarakat
dapat menerima kekuasaan dibagi secara tidak adil.
6. Individualisme/kolektivisme
Didefinisikan
sebagai tingkatan sampai mana individu didorong untuk situasi-situasi sosial untuk
bergabung dalam kelompok-kelompok suatu organisasi dalam masyarakat.
7. Kolektivisme
Dalam Kelompok
Dimensi
ini mencakup hal luas dari bagaimana anggota suatu institusi social merasa
bangga atas keanggotaannya dalam kelompok kecil seperti keluarga, dan
perusahaan tempatnya bekerja.
8. Orientasi
Kinerja
Tingkatan
sampai mana suatu masyarakat mendorong dan menghargaianggotanya atas peningkatan
prestasi dan keunggulan.
9. Orientasi
Kemanusiaan
Tingkatan
sampai mana suatu masyarakat mendorong dan menghargai individu untuk bersikap
adil,altruistis (mendahulukan kepentingan individu lain), murah hati,
perhatian,dan baik terhadap individu lain.
2.10
Implikasi Terhadap Perilaku Organisasi
Perilaku
organisasi telah menjadi sebuah disiplin ilmu global dan konsep-konsepnya harus
mencerminkan nilai-nilai kultural yang berbeda dari individu di negara-negara
yang berbeda. Untungnya terdapat banyak penelitian yang telah diterbitkan
selama beberapa tahun terakhir, yang memungkinkan kita untuk menentukan dimana
konsep-konsep perilaku organisasi dapat diterapkan secara universal pada
seluruh kultur dan di mana konsep-konsep tidak bisa diterapkan. Dalam bab-bab selanjutnyakita akan berhenti
secara berkala untuk dapat menilai apakah temuan-temuan perilaku organisasi
dapat diterapkan secara umum dan bagaimana temuan-temuan tersebut perlu dimodifikasi
di Negara yang berbeda.
Menghubungkan kepribadian dan nilai
seorang individu dengan tempat kerja:
1. Kesesuaian
individu-pekerjaan
Teori
kesesuaian kepribadian-pekerjaan (personality-job
fit theory) teori ini didasarkan pada pendapat tentang kesesuaian antara
karakteristik kepribadian seseorang individu dengan pekerjaan. Holland menghadirkan
6 tipe kepribadian yaitu jenis karakteristik-karakteristik kepribadian pekerjaan-pekerjaan
yang kongkruen.
a. Realistis:
lebih menyukai aktivitas fisik yang membutuhkan ketrampilan, kekuatan, dan
koordinasi, pemalu, sungguh-sungguh, gigih, stabil, mudah menyesuaikan diri,
praktis mekanik,operator alat bor, pekerjaan lini perakitan, petani.
b. Investigatif:
lebih menyukai aktivitas yang melibatkan proses berfikir, berorganisasi dan
memahami analisis, tidak dibuat-buat, ingin tahu, bebas ahli biologi, ahli
ekonomi, ahli matematika, dan pembawa berita.
c. Sosial:
lebih menyukai aktivitas sosial seperti membantu dan mengarahkan orang lain, suka
bergaul, ramah, kooperatif, pengertian pekerja sosial, guru, konselor,
psikologi klinis.
d. Konvensional:
lebih menyukai aktivitas yang diatur oleh peraturan yang rapi dan tidak ambigu
patuh, efisien, praktis, tidak imajinatif, tidak fleksibel, akuntan, manajer
perusahaan, kasir bank, juru tulis.
e. Giat:
lebih menyukai aktivitas verbal dimana terdapat banyak peluang untuk mempengaruhi
orang lain dan memperoleh kekuasaan percaya diri, ambisius, energik,
mendominasi pengacara, agen real estate, humas, manajer bisnis.
f.
Artistik: lebih menyukai aktivitas ambigu
dan tidak sistematis memungkinkan ekspresi yang kreatif imajinatif, tidak suka
bekerja dibawah aturan, idealisistis, emosional, tidak praktis pelukis, musisi,
penulis, desainer interior.
Holland
telah mengembangkan sebuah kuesioner vocational
preference inventory yang memuat 160 jenis pekerjaan. Responden memberitahu
pekerjaan yang mereka sukai atau tidak, dan jawaban-jawaban tersebut digunakan
untuk membentuk profil kepribadian. Teori tersebut menunjukkan bahwa ketika
kepribadian dan pekerjaan sangat cocok, kepuasan menempati peringkat tertinggi,
sementara perputaran karyawan terendah. Individu dengan karakteristik sosial
harus melakukan pekerjaan sosial, invidu konvensional melakukan pekerjaan
konvensional dan selanjutnya. Ada 3 point utama model ini,yaitu:
a. Terdapat
perbedaan intrinsik dalam kepribadian diantara para individu.
b. Terdapat
jenis pekerjaan yang berbeda-beda.
c. Individu
yang melakukan pekerjaan yang sesuai dengan kepribadianmereka harus merasa
lebih nyaman dan memungkinkan lebih sedikit untuk mengundurkan diri bila
dibandingkan individu yang melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan
kepribadian mereka.
2.11 Kesesuaian Individu-Organisasi
Selama
bertahun-tahun pembahasan telah diperluas hingga mencakup penyepadanan individu
dengan organisasi serta dengan pekerjaan. Berkaitan dengan organisasi
menghadapi lingkungan yang dinamis dan berubah-ubah serta membutuhkan karyawan
yang siap mengubah tugas dan bergerak secara mudah dalam tim. Adalah penting
bahwa kepribadian para karyawan sesuai dengan keseluruhan kultur organisasi
dari pada hanya dengan karakteristik-karakteristik dari pekerjaan tertentu.
Penelitian
terhadap kesesuaian individu-organisasi juga menelaah nilai individu dan apakah
hal tersebut sesuai dengan kultur organisasi. Kesesuaian antara nilai karyawan
dengan kultur organisasi mereka menjadi dasar kepuasan kerja, komitmen terhadap
organisasi, dan tingkat perputaran karyawan yang lebih rendah. Mengikuti
pedoman ini pada saat perekrutan seharusnya dapat membantu kita memilih
karyawan yang sesuai dengan kultur organisasi, yang pada akhirnya menghasilkan
tingkat kepuasan karyawan yang lebih tinggi dan perputaran karyawan lebih rendah.
OCP
(Organizational Culture Profile) bisa
membantu menilai apakah nilai individu sesuai dengan nilai suatu pekerjaan,
memilah karakteristik-karakteristik mereka berdasarkan pentingnya, yang
menunjukkan apa yang dihargai oleh seseorang. Alasannnya nilai-nilai yang
dinilai dalam OCP menghasilkan nilai-nilai yang menempati nilai tertinggi dalam
piramida OCP.
2.12 Ringkasan Dan Implikasi Untuk
Menajer
Kepribadian.
Pada peneliti pada pertengahan tahun 1980-an berusaha mencari keterkaitan
antara kepribadian dan prektasi kerja. “Hasil penelitian selama lebih dari 80
tahun tersebut adalah kepribadian dan pretasi kerja tidak terkait secata
berarti dalam semua sifat atau situasi”. Tetapi terkait dengan upaya di tempat
kerja terdapat bukti yang impresif bahwa individu yang mendapat nilai tinggi
dalam sikap berhati-hati, ekstraversi, dan stabilitas emosi cenderung merupakan
karyawan yang bermotivasi tinggi. Tentu saja, faktor-faktor seperti situasional
perlu dipertimbangkan.
Nilai.
Menilai individu sangat penting walaupun tidak memiliki pengaruh langsung
terhadap perilaku, tapi nilai sangat memengaruhi sekap, perilaku, presepsi
seseorang. Dengan beranggapan bahwa nilai-nilai setiap individu berbeda,
manajer dapat menggunakan RVS untuk menilai apakah nilai-nilai mereka sejalan
dengan nilai-nilai dominan organisasi. Prestasi kerja dan kepuasan kerja para
karyawan cenderung lebih tinggi bila nilai-nilai mereka sangat sesuai dengan
organisasi. Hal ini member alasan bagi para manajer untuk berusaha keras selama
penyeleksian karyawan guna mencari kandidat yang tidak hanya memiliki
kemampuan, pengalaman, dan motiivasi untuk bekerja tetapi juga sistem nilai
yang sesuai dengan sistem nilai organisasi.
BAB II
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kepribadian adalah karakter-karakter
internal termasuk didalamnya berbagai atribut sifat, tindakan yang membedakan
dengan orang lain.secara praktis konsep kepribadian dapat didifinisikan sebagai
seperangkat pola perasaan , pemikiran dan perilaku yang unik yang menjadi standar
respon konsumen sebagai situasi. Kepribadian dapat dijelaskan sebagai karakter
psikologi yang menentukan dan menggambarkan bagaimana seorag merespon
lingkungannya. Walaupun kepribadian cenderung konsisten dan bertahan lama,
tetapi dapat berubah tiba-tiba sebagai respon terhadap berbagai peristiwa hidup
yang utamamaupun yang berangsur-angsur dari waktu ke waktu. Nilai merupakan
suatu yang berharga, bermutu dan berguna bagi manusia. Sesuatu dikatakan
bernilai karena sesuatu tersebut berharga dan berguna bagi sesama manusia.